Immaterialitas Intelektif

Pada bagian yang lalu, sedikitnya telah saya singgung bahwa intelektif atau yang mengetahui juga merupakan entitas immaterial, pembuktian ini bukan karena mengikuti intelligibilia yang immaterial, melainkan karena yang mengetahui, katakanlah seseorang, secara hakiki (bukan terkonstruktif) adalah immaterial sebagai ‘syarat kemungkinan’ untuk mengetahui melalui tahap-tahapnya. Dari hal yang demikian “tindak mengetahui” seseorang adalah suatu aktifitas yang bersifat immateri.

Pada awalnya tindak mengetahui adalah kesatuan dalam kesederhanaan, yaitu kesatuan “yang mengetahui” dan “yang diketahui secara esensial”, namun dalam analisis kita sekarang ini dikotomi antara yang mengetahui dan yang diketahui secara esensial atau ilmu adalah suatu hal yang sah.[1] Hal tersebut bisa sah terjadi jika dalam suatu analisis syarat pemisahan adalah berbeda secara konseptual. Usaha yang demikian mirip seperti pembukaan dalam pembuktian primasialitas realitas ketika seseorang dapat secara sah memisahkan konsep wujud dan mahiyyah, lalu membuktikan yang pertama bukan yang kedua. Read the rest of this entry

Wahdah al-Wujud Al-Tasykiki

Dimensi pemikiran Islam bisa dibagi pada tiga jenis, yaitu, teologi, Irfan, dan filsafat.[1] Dari tiga pemikiran tersebut teori wahdatul wujud biasanya dianggap berasal dari ‘irfan yang diyakini tokoh sentralnya adalah Ibn Arabi. Melalui beberapa komentator kitabnya, teori wahdatul wujud meluas dan menjadi salah satu pemikiran penting dalam perkembangan Islam. Teori wahdatul wujud versi Irfani menyatakan bahwa eksistensi yang sesungguhnya hanyalah Allah. Dengan kata lain, teori ini membatasi wujud hanya pada Allah sehingga segala sesuatu selainNya (alam, ma siwahu, makhluq) bukanlah wujud yang hakiki melainkan syu’un atau penampakan dari sifat-sifatNya.[2] Read the rest of this entry

Intelligibilia Adalah Wujud Immaterial

Teori mengenai pengetahuan atau ilmu dalam Hikmah Muta’aliyyah adalah teori tentang wujud (amr wujud) juga. Maksudnya, ilmu, karena keberadaannya diyakini sebagai sesuatu yang menghilangkan ketidak-tahuan, juga suatu modus wujud (anha’ wujud). Modus wujud juga terbagi menjadi materi (maddi) dan immateri (mujarrad). Karena ilmu adalah salah satu modus wujud, lalu bagaimana modus wujud ilmu tersebut, apakah ia materi atau immateri?. Apakah materi dan immateri juga mempunyai spesifikasi khusus pada dirinya, sehingga, jika ilmu telah terbuktikan bahwa ia adalah salah satu dari dua modus wujud tersebut, kita juga bisa menetapkan suatu spesifikasi pada dirinya. Juga, modus wujud terbagi pada potensi dan aktual. Read the rest of this entry

Konsep Wahdah al-Wujud (penjelasan singkat)  

Setiap bentuk pemikiran yang berkembang dalam Islam terdapat perbedaan signifikan dalam melihat realitas yang terdapat di luar diri (entified realities) manusia. Perbedaan yang terjadi biasanya dikarenakan bagaimana seseorang memiliki pondasi awal ketika berhadapan dengan seseuatu, tentu saja ini berhungan erat secara epistemologis secara langsung.

Seluruh pemikiran, khususnya, filsafat memfokuskan diri pada ‘eksisten’ (maujud) dan ia adalah sesuatu yang swa-bukti (self-evident). Misalnya, dalam kerangka kesadaran yang empirik, keberadaan benda-benda indrawi dirasakan sebagai yang sangat jelas dalam penampakannya dan keberadaannya. Tapi karena dalam Islam ada realitas-realitas agama yang transenden berarti kesadaran terhadap realitas-realitas itu harus ditingkatkan dalam kaitannya dengan pengalaman (tsubut) dan penetapan (establish/itsbat). Read the rest of this entry

Kritik Agama Richard Dawkins

Sudah sewajarnya jika agama dipandang sebagai basis kepercayaan orang banyak yang tidak memiliki evidensi. Bagi seorang saintis seperti Richard Dawkins, agama memang seperti itu. Konflik yang berkelanjutan antara agama dan sains mengundang konsekuensi barunya; masing-masing dari kedua belah pihak memperbarui argumen-argumennya dalam mempertahankan keyakinannya masing-masing. Artinya salah satu dari kedua belah pihak, yaitu sains, mengundang orang-orang baru untuk menjadi ateis dan, hal yang paling umum kita dapati, menolak adanya Intellegent Designer.[1]

Namun, lagi-lagi, agamawan harus melirik ke arah dirinya sendiri bagaimana memberikan evidensi sebagaimana saintis memberikan rumusan-rumusan, misalnya, tentang alam semesta. Meskipun demikian, konflik ini menggambarkan iman adalah oposisi ilmu pengetahuan dan vice versa. walaupun berada di dalam konflik yang  terus menerus, keimanan dan sains sedang berada dalam posisi terbaiknya, yaitu keduanya sedang menjelaskan kisah-kisah mengenai asal usul kehidupan semua yang ada ini.[2] Read the rest of this entry